si yeni dan teman-temannya nggak pernah makan di kantin kampus. misalkan makan pun, jaraaang sekali. dia lebih sering masak sendiri. gue heran kenapa. bukannya makanan korea sehat-sehat tuh? kalau gue tanya ke teman-temannya, mereka bilang "makanan korea pedas-pedas, kita pada gak tahan, apalagi kimchi." oo begitu toh. itu pikiran gue.
suatu hari habis main badminton sama mereka, gue tanya dia. kata dia "males ah, di situ kebanyakan sayur, dagingnya cuma sedikit." aseli gue lebih kaget sama jawaban dia. orang-orang asia tenggara nggak suka makanan korea memang banyak. karena pedas dan asamnya. tapi ini kok alasannya lain sendiri? padahal gue justru senang sama makanan korea, soalnya banyak sayurnya. jarang banget kantin kampus pasang lauk daging semua. misalnya daging semua pun, at least ada kimchi. rata-rata dari 4 jenis lauk pasti 1 itu kimchi, 1 daging, dan 1 sayur, dan 1 lagi.. campuran sayur-ikan atau sayur daging atau sayur-mie.
kemaren gue ketemu mereka lagi di tempat fastfood di kampus. gue lagi mau beli sandwich. dia lihat gue pegang-pegang sandwich tuna. terus dia bilang "eh ati-ati lho.. yg ini isinya bukan daging, yg isinya daging yg ini.." kata dia sambil nunjukin sandwich ham. hlaaa! ini orang maniak daging banget yeee. terus gue bilang "kalo gue justru malah harus beli yang ini dong.. soalnya yg itu kan isinya ham, gue gak makan babi." dan dia cuma manggut-manggut aja dengan tampang rada heran "ooo..".
terus gue (bareng chinmi) pesan ramyon keju (huahaha.. sama aja ya dgn indomie keju) dan makan di situ. mereka makan di situ juga. eh tau-tau si chinmi nyeletuk "tuh si yeni makan burger masak sayurnya dikeluarin semua dulu, baru dimakan." gue jadi tengok-tengok gitu ke meja di belakang gue. tambah lagi deh gue heran balik ke dia "wah wah wah.. bener-bener maniak daging.." (sambil yakin berpikir bahwa yang dia beli itu pasti burger babi, bukan burger udang giling).
padahal, kalau kita nggak makan sayur sama sekali, dari mana mau dapat serat? yah gue berharap orang-orang kayak si yeni itu masih mau makan buah berserat tinggi (misalnya apel) atau minuman berserat tinggi seperti minuman aloe (lidah buaya) yg cukup umum ada di korea. bahkan kadang-kadang gue pikir.. dengan rajin makan kimchi (sawi/kol) atau salad pun tidak banyak memberi asupan serat yg cukup. karena gue pernah nyobain quiz kesehatan untuk mengecek apakah serat kita sudah cukup atau belum. sepertinya belum cukup hu hu hu..
kalau ada yg mau quiznya, bisa klik di sini aja...
mungkin gue harus kembali ke jaman gue masih jadi sapi, sering banget beli lettuce (kol yg ada di dalem burger itu lho) dan tiap pulang sekolah dulu selalu kremus-kremus di depan kulkas kayak sapi.. yah, lagi-lagi masih jadi anak kost, nggak punya kulkas.. gimana yah caranya menyimpan sayur supaya tetap segar? di kamar mandi? di kisi-kisi jendela biar kena angin dingin dari luar?
ditunggu komentar teman-teman ;)
Ini blog buat mencatat semua yang gue dan teman-teman pengen catat, dari makanan, eksperimen, minuman, perjalanan, pokoke apa aja yang penting ngisinya musti sopan, tidak boleh pakai kata2 porno, makian dll (kecuali mendapat izin dari Kentut Ijo).
Tuesday, March 30, 2004
Monday, March 29, 2004
kincir angin....
Hari Sabtu kemarin, Ken mengajak Hikaru untuk makan di sebuah resto Belanda di Cikini dengan nama....
hmmm... sebentar... kalo ndak salah : Het Binnenhof. Ketika saya sampai di pelataran parkir, terlihat di
sebelah kanan dari resto tersebut terdapat sebuah toko peralatan foto dan studio foto.
Di atas resto tersebut ada sebuah patung kincir angin dan di bagian depan terdapat sebuah tungku
besar dan tumpukan kayu bakar yang cukup tinggi (hmmm lovely, tidak setiap hari dan tidak setiap
resto memberikan pemandangan seperti ini).
Lalu masuklah saya ke dalam resto tersebut, saya melihat dindingnya dihiasi oleh beberapa karya fotografer
yang kayaknya resto ini juga berfungsi sebagai galery foto (hmm, apakah yg diujung itu foto Marcella
Zalianty? boleh saya colong untuk menggantikan foto ibu Megawati di kamar saya? hehehehe just kidding). Penerangan yang diberikan menggunakan lampu2 bohlam kecil
berwarna kuning. Suasana cukup sepi, ketika saya datang yang mengisi meja hanya Hikaru dan seorang temannya.
hikaru : sebenarnya bukan cuma gua ama temen gua waktu si ken dateng, tapi ada satu meja yang letaknya sedikit tersembunyi, disitu ada ce cantik lagi duduk sendirian. Waktu si ken dateng, dia buru-buru pergi. ah iya..sepertinya restoran ini juga promosi negara belanda deh. soalnya ada brosur2 kecil yang ditaro di deket meja2. kincir anginnya banyaaak...pengen ngambil 1 deh :(
But, that's ok, saya rasa tempat ini cukup bagus untuk melepas stress sambil melihat-lihat foto (coba bandingkan
jika anda makan di food court yang rame, pelayan terlihat terburu-buru, dst dst). Tapi ada satu hal yang
sangat mengganggu makan siang saya di resto tsb: TV.
Saya datang hampir pukul 12 siang, dan anda tahu yang ditayangkan stasiun TV Indonesia jam 11-13? jawabannya:
coba tanyakan ke Hikaru, sedangkan saya sendiri sangat sangat bersyukur membelakangi TV itu. hehehe.
hikaru : iya...gak asyik acara TV nya. tapi pelayannya baik, ngasih remotenya langsung, jadi kita bisa mindahin ke cenel mana yang kita suka.
Ketika saya datang, ternyata hikaru dan temannya sudah memesan minuman. Saya memesan teh mint (saya ingin
membandingkan teh mint resto ini dengan teh mint yg saya rasakan di resto timur tengah), untuk appetizer
saya pesan bitterballen (waktu itu saya salah sebut : 'biterbolen', tapi dikoreksi oleh waitress: 'biterbalen'.
well, itu sebuah nilai plus untuk service: pelayan tahu mengenai apa yang disajikan). Ketika saya bingung
memilih apa yang akan saya makan, Hikaru menanyakan ke waitress apa yang sering dipesan di resto tersebut,
dan pelayan menjawab : wiener (bener gak sih nulisnya?), lalu saya pun memesan Wiener (Good job Hikaru,
why didn't I think of that, bertanya apa yg menjadi menu andalan resto ini). Waitress pun menanyakan apakah
saya mau pake fries atau puree, karena saya sering makan fries... why don't we try.. puree :D.
Hikaru pun memesan medium pizza supreme, sedangkan temannya memesan lasagna. Karena ini resto belanda,
maka saya gak bisa memberikan nilai buruk jika pizza dan lasagna-nya kurang enak (pizza dan
lasagna masakan itali bukan belanda, dan perlu diingat andaikan ada yang protes pun,
bisa saja -kalau saya pemilik resto tsb- saya akan memberi argumen bahwa pizza & lasagna itu a la resto saya hehehe).
hikaru : gua mesen lemon squash (kesukaan gua sih) lebih enak, lebih banyak, dan lebih mahal dari lemon squash pizza hut. temen gua mesen milkshake chocolate. mungkin karena gua gak suka milkshake, gua bilang gak enak, tapi temen gua sih bilangnya lumayan lah.
Oke, tak lama kemudian, datanglah waitress membawa segelas air panas, beserta tempat gula dan teh celup.
lalu saya coba membuat dan meminum teh itu.
hmm kaget juga, karena rasa mint-nya justru seperti yang
saya cari2, agak cool mint. Walaupun setelah itu, saya tetap lebih menyukai teh mint tanpa ada rasa cool-nya.
coba saja anda buat sendiri di rumah, masukkan banyak helai daun mint di dasar poci teh anda, baru anda seduh teh
di dalamnya.
beberapa saat kemudian, datanglah lasagna (saya tidak mencobanya, sekali lagi tanyakan hikaru dan temannya).
Dan juga Bitterballen dengan saus mustard.
hmmmm kecil2... yah namanya juga bitterballen, kalo gede namanya kroket.
ketika saya menusuk bitterballen itu dengan garpu, ternyata kulitnya crusty jadi remuk (gak seperti bitterballen yang
biasa saya makan yg menyerupai kroket mini) hal ini membuat saya berhati-hati untuk mengambil mustard menggunakan
bitterballen itu (takut nyemplung ke dalam tempat mustardnya hehehe). Bisa disimpulkan bahwa antara kulit bitterballen
dan isinya tidak saling menempel.
Nah, akhirnya datang juga si Wiener.
Wiener ternyata adalah daging yang cukup luas dan dimasak menggunakan kulit bitterballen.
hmm yummy, ada salad paprikanya juga. sambalnya adalah sambal fastfood (itu lho sambal merah gelap pekat yang
anda peroleh dengan memencet tongkat besar dan keluar sambal tersebut dari kran jika anda makan di resto fastfood fried chicken)
Dan yang terakhir muncul adalah: pizza.
gak nyangka, ternyata resto ini menghadirkan thin pizza. enak juga, gak mengecewakan.
so, overall... makanannya enak, gue kekenyangan, untung gak muntah. service bagus,
suasana juga enak (kecuali TV-nya!) and the waitresses kinda...... cute =P~ (uhmmmm, yg terakhir kayaknya
jgn dimasukin penilaian hehehe)
hikaru : bitterballen itu seperti kroket, tapi yang ini kulit dan isi tidak nempel. tapi kalo gua rasa sih, lebih enak kroket buatan indonesia. lasagnanya? hmm....kalo dibandingin pizza hut (again) gua lebih suka yang ini. kalo pizza nya enak. dibandingin lagi ama pizza hut, gua lebih suka yang ini. tipis dan banyak toppingnya. oh iya, lasagna dan pizza nya jadi lebih enak kalo dimakan bareng sambel wiener-nya si ken. ya berhubung si ken kepedesan, dia gak nolak sambelnya gua minta :D kulit wiener nya mirip kulit bitterballen, dan dagingnya....alot tenan. si ken blom sempet makan dah gua berantakin :D butuh waktu sekitar 5 menit buat motongnya (itu gua loh..soale gak biasa make garpu dan pisau..maklum..ndeso :D) Btw, waitresses cuma 1. untung restonya sepi, kalo rame ken barangkali ikut membantu melayani tamu2 untuk membantu waitress yang cute tersebut :D huehehehe ...
bilang keju,
Kentut Ijo
PS: gambar lasagna sengaja saya balik, biar keliatan tulisan resto-nya. jadi jangan protes yaa....
hmmm... sebentar... kalo ndak salah : Het Binnenhof. Ketika saya sampai di pelataran parkir, terlihat di
sebelah kanan dari resto tersebut terdapat sebuah toko peralatan foto dan studio foto.
Di atas resto tersebut ada sebuah patung kincir angin dan di bagian depan terdapat sebuah tungku
besar dan tumpukan kayu bakar yang cukup tinggi (hmmm lovely, tidak setiap hari dan tidak setiap
resto memberikan pemandangan seperti ini).
Lalu masuklah saya ke dalam resto tersebut, saya melihat dindingnya dihiasi oleh beberapa karya fotografer
yang kayaknya resto ini juga berfungsi sebagai galery foto (hmm, apakah yg diujung itu foto Marcella
Zalianty? boleh saya colong untuk menggantikan foto ibu Megawati di kamar saya? hehehehe just kidding). Penerangan yang diberikan menggunakan lampu2 bohlam kecil
berwarna kuning. Suasana cukup sepi, ketika saya datang yang mengisi meja hanya Hikaru dan seorang temannya.
hikaru : sebenarnya bukan cuma gua ama temen gua waktu si ken dateng, tapi ada satu meja yang letaknya sedikit tersembunyi, disitu ada ce cantik lagi duduk sendirian. Waktu si ken dateng, dia buru-buru pergi. ah iya..sepertinya restoran ini juga promosi negara belanda deh. soalnya ada brosur2 kecil yang ditaro di deket meja2. kincir anginnya banyaaak...pengen ngambil 1 deh :(
But, that's ok, saya rasa tempat ini cukup bagus untuk melepas stress sambil melihat-lihat foto (coba bandingkan
jika anda makan di food court yang rame, pelayan terlihat terburu-buru, dst dst). Tapi ada satu hal yang
sangat mengganggu makan siang saya di resto tsb: TV.
Saya datang hampir pukul 12 siang, dan anda tahu yang ditayangkan stasiun TV Indonesia jam 11-13? jawabannya:
coba tanyakan ke Hikaru, sedangkan saya sendiri sangat sangat bersyukur membelakangi TV itu. hehehe.
hikaru : iya...gak asyik acara TV nya. tapi pelayannya baik, ngasih remotenya langsung, jadi kita bisa mindahin ke cenel mana yang kita suka.
Ketika saya datang, ternyata hikaru dan temannya sudah memesan minuman. Saya memesan teh mint (saya ingin
membandingkan teh mint resto ini dengan teh mint yg saya rasakan di resto timur tengah), untuk appetizer
saya pesan bitterballen (waktu itu saya salah sebut : 'biterbolen', tapi dikoreksi oleh waitress: 'biterbalen'.
well, itu sebuah nilai plus untuk service: pelayan tahu mengenai apa yang disajikan). Ketika saya bingung
memilih apa yang akan saya makan, Hikaru menanyakan ke waitress apa yang sering dipesan di resto tersebut,
dan pelayan menjawab : wiener (bener gak sih nulisnya?), lalu saya pun memesan Wiener (Good job Hikaru,
why didn't I think of that, bertanya apa yg menjadi menu andalan resto ini). Waitress pun menanyakan apakah
saya mau pake fries atau puree, karena saya sering makan fries... why don't we try.. puree :D.
Hikaru pun memesan medium pizza supreme, sedangkan temannya memesan lasagna. Karena ini resto belanda,
maka saya gak bisa memberikan nilai buruk jika pizza dan lasagna-nya kurang enak (pizza dan
lasagna masakan itali bukan belanda, dan perlu diingat andaikan ada yang protes pun,
bisa saja -kalau saya pemilik resto tsb- saya akan memberi argumen bahwa pizza & lasagna itu a la resto saya hehehe).
hikaru : gua mesen lemon squash (kesukaan gua sih) lebih enak, lebih banyak, dan lebih mahal dari lemon squash pizza hut. temen gua mesen milkshake chocolate. mungkin karena gua gak suka milkshake, gua bilang gak enak, tapi temen gua sih bilangnya lumayan lah.
Oke, tak lama kemudian, datanglah waitress membawa segelas air panas, beserta tempat gula dan teh celup.
lalu saya coba membuat dan meminum teh itu.
hmm kaget juga, karena rasa mint-nya justru seperti yang
saya cari2, agak cool mint. Walaupun setelah itu, saya tetap lebih menyukai teh mint tanpa ada rasa cool-nya.
coba saja anda buat sendiri di rumah, masukkan banyak helai daun mint di dasar poci teh anda, baru anda seduh teh
di dalamnya.
beberapa saat kemudian, datanglah lasagna (saya tidak mencobanya, sekali lagi tanyakan hikaru dan temannya).
Dan juga Bitterballen dengan saus mustard.
ketika saya menusuk bitterballen itu dengan garpu, ternyata kulitnya crusty jadi remuk (gak seperti bitterballen yang
biasa saya makan yg menyerupai kroket mini) hal ini membuat saya berhati-hati untuk mengambil mustard menggunakan
bitterballen itu (takut nyemplung ke dalam tempat mustardnya hehehe). Bisa disimpulkan bahwa antara kulit bitterballen
dan isinya tidak saling menempel.
Nah, akhirnya datang juga si Wiener.
hmm yummy, ada salad paprikanya juga. sambalnya adalah sambal fastfood (itu lho sambal merah gelap pekat yang
anda peroleh dengan memencet tongkat besar dan keluar sambal tersebut dari kran jika anda makan di resto fastfood fried chicken)
Dan yang terakhir muncul adalah: pizza.
gak nyangka, ternyata resto ini menghadirkan thin pizza. enak juga, gak mengecewakan.
so, overall... makanannya enak, gue kekenyangan, untung gak muntah. service bagus,
suasana juga enak (kecuali TV-nya!) and the waitresses kinda...... cute =P~ (uhmmmm, yg terakhir kayaknya
jgn dimasukin penilaian hehehe)
hikaru : bitterballen itu seperti kroket, tapi yang ini kulit dan isi tidak nempel. tapi kalo gua rasa sih, lebih enak kroket buatan indonesia. lasagnanya? hmm....kalo dibandingin pizza hut (again) gua lebih suka yang ini. kalo pizza nya enak. dibandingin lagi ama pizza hut, gua lebih suka yang ini. tipis dan banyak toppingnya. oh iya, lasagna dan pizza nya jadi lebih enak kalo dimakan bareng sambel wiener-nya si ken. ya berhubung si ken kepedesan, dia gak nolak sambelnya gua minta :D kulit wiener nya mirip kulit bitterballen, dan dagingnya....alot tenan. si ken blom sempet makan dah gua berantakin :D butuh waktu sekitar 5 menit buat motongnya (itu gua loh..soale gak biasa make garpu dan pisau..maklum..ndeso :D) Btw, waitresses cuma 1. untung restonya sepi, kalo rame ken barangkali ikut membantu melayani tamu2 untuk membantu waitress yang cute tersebut :D huehehehe ...
bilang keju,
Kentut Ijo
PS: gambar lasagna sengaja saya balik, biar keliatan tulisan resto-nya. jadi jangan protes yaa....
Sunday, March 28, 2004
Rumah Makan Seulawah
Pernah makan masakan Aceh? Sebelumnya sih gua pernah makan mie Aceh, rujak Aceh, dan nasi goreng Aceh. Di rumah makan ini juga ada makanan2 di atas, tapi waktu kami (me and my friend) dateng lagi gak ada. Jadinya kami mesen gule ikan hiu (8K), kare kambing (8K), nasi putih (2.5K), dan es timun (3.5K).
Ikan hiunya disajikan dalam potongan2 kecil, yang gua dapet sih 3 potong. Rasanya agak asem, kalo gua bilang sih mirip2 gulai asam (tau gak gulai asam?), tapi gulai asam yang gua kenal warna kuahnya merah dan rasanya tidak seasem ini. Tapi yang pasti sih enaak :D (mungkin karena gua laper sih :p).
Kari kambingnya juga enak, tapi gua sih lebih suka ama kuah gulai ikan hiunya. Kata temen gua, masakannya sudah disesuaikan untuk lidah orang Jakarta, soalnya kurang pedes. Kari kambing yang Aceh yang biasa dia makan jauh lebih pedes dan kuahnya lebih merah.
Sayurnya gratis, sambelnya juga. Sayurnya itu daun pepaya rebus, ada bunga pepaya nya juga. Pahit deh, tapi enak loh kalo dimakan bareng gule ikan hiu dan kari kambingnya. Es timunnya manis bahkan terlalu manis bagi gua, timunnya gak diblender, tapi di...kalo istilah gua, dikerok (gua gak ngerti disini bilangnya apaan). Tapi yang pasti enak diminum apalagi kalo udaranya panas, seger.
Setiap Jum'at, rumah makan ini menyediakan nasi biryani. Katanya nasi biryani itu mirip2 nasi uduk (kalo istilah gua sih nasi guri/nasi lemak). Trus ada roti jala juga, waah sudah lama gua gak makan :( well sekarang gua tau harus kemana kalo mo makan roti jala ;) Di menu juga tertulis ikan kayu, ikan tumis, kuah pli'u, asam ke'eung, dan timphan/pulud. Ada yang tau gak ini semua apaan? gua baru liat menunya nih :D jadi gak bisa nanya ke yang jual :p Wah ternyata ada urab juga (:p~).
Suasananya sih biasa aja. Seperti rumah makan padang pada umumnya, dan yang pasti tidak se-wah resto Sederhana atau Garuda, yang pasti banyak lambang PKS :p Letak rumah makan ini di jalan Bendungan Hilir Raya no 3 (telp. 9254921), depan RSAL Mintohardjo, Jakarta Pusat.
Subscribe to:
Posts (Atom)